Kelapa euy…Alpukat euy….

Suami & Istri

Desember 21, 2008 · 1 Komentar

sumber: unknown
Fact or fiction: (katanya) Based on True Story..

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja
bahkan sudah mendekati malam,pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi
dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. mereka menikah
sudah lebih 32 tahun

Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa,setelah
istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa
digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh
tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah
tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan
mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia
letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.

Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya
tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari
rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan
siang. sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan
selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan
apa2 saja yg dia alami seharian.

Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, pak
suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap
berangkat tidur.

Rutinitas ini dilakukan pak suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia
merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka,
sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka
sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal
dengan keluarga masing2 dan pak suyatno memutuskan ibu mereka Dia yg
merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata ” Pak kami ingin
sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada
sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak.bahkan bapak tidak ijinkan kami
menjaga ibu” .

dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya “sudah yg keempat
kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi ,kami rasa ibupun akan
mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban
seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak,kami janji kami akan
merawat ibu bergantian”.

Pak suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka.” Anak2ku
Jikalau hidup didunia ini hanya untuk nafsu Mungkin bapak akan menikah,
tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari
cukup, dia telah Melahirkan kalian”.. sejenak kerongkongannya tersekat,
kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak
satupun dapat menghargai dengan apapun. coba kalian tanya ibumu apakah dia
menginginkan keadaanya seperti Ini. kalian menginginkan bapak bahagia,
apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya
sekarang”. kalian menginginkan bapak yg masih diberi Allah kesehatan
dirawat oleh orang lain bagaimana dengan ibumu yg masih sakit. Sejenak
meledaklah tangis anak2 pak suyatno merekapun melihat butiran2 kecil jatuh
dipelupuk mata ibu suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat
dicintainya itu..

Sampailah akhirnya pak suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta
untuk menjadi nara sumber diacara islami Selepas shubuh dan merekapun
mengajukan pertanyaan kepada pak suyatno kenapa mampu bertahan selama 25
tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2..disaat itulah meledak
tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun
tidak sanggup menahan haru disitulah pak suyatno bercerita”.

Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta tapi dia tidak mencintai
karena Allah semuanya akan luntur. Saya memilih istri saya menjadi
pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat
saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia
memberi saya 4 orang anak yg lucu2..

Sekarang dia sakit berkorban untuk saya karena Allah..dan itu merupakan
ujian bagi saya, sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia
sakit,,,setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya dapat bercerita
kepada Allah

Diatas sajadah..dan saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk
menyimpan dan mendengar rahasia saya

→ 1 CommentKategori: Uncategorized

Ayah & Anak

Desember 21, 2008 · 1 Komentar

sumber: unknown
fact or fiction: modified fact

Pada suatu hari, seorang laki-laki pulang dari bekerja larut malam. Hari
itu sangat melelahkan baginya. Sesampainya dirumah ia mendapati anaknya
yang berusia 5 tahun sudah menunggunya di depan pintu rumah.

Anak: “Ayah, boleh aku bertanya?”
Ayah: “yeah, boleh, ada apa?” jawab sang ayah.
Anak: “Ayah, berapa gaji ayah dalam satu jam?”
Ayah: “Bukan urusan mu.. ngapain kamu nanya-nanya hal begitu??” jawab sang
ayah dengan marah.
Anak: ” Aku cuma pengen tahu ayah… tolonglah ayah, beritahu aku, berapa
penghasilan ayah dalam sejam?” tanya si anak dengan memelas
Ayah: “baiklah, jika kamu emang pengen tahu, gaji ayah mu ini Cuma
Rp.30.000 sejam.. puas?” jawab si ayah dengan ketus.
Anak: ” Oh…” ujar si anak sambil menundukkan kepala… kemudian ia
kembali bertanya
Anak: “ayah, boleh nggak aku minta Rp.15.000?” tanya si anak dengan
ragu-ragu..

Begitu mendengar pertanyaan terakhir anaknya, kekesalan sang ayah langsung
memuncak….Pada saat itu juga sang ayah langsung berkata: “oh.. jadi kamu
nanya gaji ayah berapa Cuma mau minta uang untuk beli mainan2 ga penting
atau barang2 ga berguna lain ya? Kalau begitu sekarang kamu cepat masuk ke
kamar mu dan TIDUR… kau tau sekarang jam berapa HAH? Mikir dong… ayah
kerja keras tiap hari untuk kamu dan mama mu, tapi kamu egois sekali…
kelakuanmu sungguh memalukan” .

Dengan wajah sedih dan kepala menunduk si anak segera menuju ke kamarnya
tanpa berkata-kata.. terlihat jelas bahwa ia sangat sedih mendengarkan
perkataan ayahnya… ia segera masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu
dengan perlahan.

Sang ayah lalu duduk di kursi dan tanpa sengaja kembali memikirkan
permintaan anaknya barusan ditengah malam buta seperti saat itu. Dalam
pikirannya ia sangat kesal dan tak habis pikir kok teganya anak yang
disayanginya itu malah menanyakan uang disaat ia baru saja pulang dan capek
setelah bekerja keras seharian.

Setelah beberapa jam berlalu, sang ayah mulai tenang, dan ia bisa berpikir
sedikit lebih jernih. Ia kemudian berpikir: “yah, namanya juga anak-anak…
atau mungkin saja anak ku memang membutuhkan uang Rp.15.000 itu untuk
membeli sesuatu yang sangat penting baginya. Lagi pula, anak ku itu tidak
terlalu sering minta uang kok… ia juga bukan anak yang suka konsumtif.”
Lalu sang ayah segera menuju kekamar anaknya, lalu membuka pintu kamar
anaknya itu.

“kamu udah tidur sayang?” tanya sang ayah.
“belum ayah”, jawab anaknya dengan suara agak terbata-bata.
“Ayah udah berpikir, mungkin tadi ayah terlalu keras” kata sang ayah.
“Hari ini sangat melelahkan buat ayah, ayah minta maaf telah melampiaskan
kekesalan ayah padamu. Ini, Rp.15.000 yang kamu minta tadi” kata sang ayah
dengan nada lembut.
Si anak seketika itu juga langsung berdiri dan tersenyum. “OH… terima
kasih ayah… ” ujar anaknya dengan riang.

Kemudian, ia merogoh kebawah bantalnya dan mengeluarkan setumpuk uang
kertas yang sudah lusuh. Si anak kemudian mulai menyusun dan merapikan uang
yang dimilikinya itu diatas kasur.

Ketika sang ayah melihat ternyata anaknya sudah punay uang dalam jumlah
yang cukup banyak, ia kembali marah dan kesal.
“Untuk apa kamu minta uang lagi kalau kamu udah punya uang sebanyak itu?”
tanya sang ayah dengan nada tinggi.

“Soalnya sebelum ayah kasih, uangnya nggak cukup ayah…” jawab sang anak.
“Tapi sekarang aku udah punya uang yang cukup”, kata si anak kemudian.
“Ayah, sekarang aku sudah punya Rp.30.000.. boleh nggak aku membeli waktu
ayah satu jam saja…?” tanya anaknya dengan nada sungguh-sungguh dan polos..
“Aku mau makan malam bareng sama ayah dan mama… besok ayah pulang cepat
ya…” ujar si anak dengan sungguh-sungguh… matanya menatap polos pada sang
ayah yang diam terpaku dihadapannya.

Mendengar perkataan anaknya, sang ayah langsung terenyuh dan menangis.. ia
lalu segera merangkul anak yang disayanginya itu sambil menangis dan minta
maaf pada sang anak..

“Maafkan ayah sayang…” ujar sang ayah.
“Ayah telah khilaf, selama ini ayah lupa untuk apa ayah bekerja
keras…maafkan ayah anakku…” kata sang ayah ditengah suara tangisnya. Si
anak hanya diam membisu dalam dekapan sang ayah…

Cerita ini hanyalah untuk mengingatkan kita semua yang selalu bekerja keras
dalam hidup ini. Janganlah kita membiarkan waktu berlalu begitu saja tanpa
kita sempat menikmati waktu yang sangat berharga tersebut bersama
orang-orang yang sangat kita sayangi dan sangat berarti dalam hidup kita.

Ingatlah untuk selalu berusaha menyisihkan waktu seharga Rp.30.000 untuk
orang-orang yang Anda cintai dan sayangi.
Jika kita meninggal besok, perusahaan tempat kita bekerja dapat dengan
mudah mengganti orang yang menempati posisi kita hanya dalam hitungan
hari..
Tapi, keluarga dan orang dekat tercinta yang kita tinggalkan akan merasakan
kehilangan itu sepanjang hidupnya… Bila kita memikirkannya, kenapa kita
masih saja mencurahkan seluruh hidup kita hanya untuk bekerja???

Semoga menjadi bahan renungan buat kita..

→ 1 CommentKategori: Uncategorized

Loving Someone The Hard Way…

Desember 14, 2008 · 8 Komentar

Hummm...
Saat anda belum siap untuk menikah, maka akan ada dua cara untuk mecintai seseorang. Cara yang pertama adalah “cara yang mudah untuk dilakukan”. Sedangkan cara yang kedua, saya sebut saja sebagai “cara yang sulit untuk dilakukan”. Saya memberikan tanda kutip dengan maksud memberikan makna lain untuk kata-kata tersebut.

Cara Mudah
Cara yang mudah untuk mencintai seseorang adalah dengan menyatakannya dengan berbagai bentuknya yang biasanya berujung dengan pacaran. Mungkin beberapa teman bingung karena merasa pacaran itu tidak semudah itu. Lantas kenapa saya katakan mudah?

Mudah memiliki makna relatif di sini. Saya akui, untuk menyatakan cinta dan berpacaran itu membutuhkan keberanian, modal, dan lain-lain. Hanya saja, kalau dilihat dari sisi agama (tanpa bermaksud menggurui) tentu hal tersebut bukan hal terbaik yang dapat kita lakukan. Dan itu saya anggap lebih mudah dibanding berbuat iffah (menjaga diri) dan menyembunyikan perasaan. Karena mencintai dengan tulus, lebih-lebih mencintai karena Allah, memang membutuhkan pengorbanan agar sesuai dengan aturan yang ada.

Cara Sulit
Nah…bayangkan kalau anda berusaha menyembunyikan perasaan anda. Dalam setiap interaksi harus bersikap biasa saja. Sehingga perasaan anda tidak menimbulkan fitnah di hati sang wanita. Wah…ini sulit lho! Belum lagi dihadapkan pada resiko kehilangan yang begitu besar karena belum dibuat komitmen apa-apa. Jangankan komitmen, mengutarakan perasaan aja belum! Mungkin itu yang ada di benak kebanyakan orang.

Saya ambil contoh kasus teman saya, sebut saja congelés coeur (nicknya di dunia maya). Beliau kebetulan mencintai seseorang. Demi menjaga agar sesuai syariat yang ia percaya, ia tidak mengungkapkan perasaannya. Dan sang wanita diperlakukan sebagaimana ia memperlakukan rekan-rekan wanita lain dalam hidupnya. Tiba-tiba, sang wanita menikah. Doerrr…..!! Congelés coeur langsung kaget dan meminta perlindungan dari Allah terhadap fitnah yang datang. Tentu saja hal tersebut membuatnya syok! Mau melamar ada dua penghalang. Tak boleh ada pinangan di atas pinangan. Kalau pun boleh, ia juga belum siap. Tapi, karena ia berusaha ikhlas demi syariat dan untuk kebahagiaan si wanita juga, ia berusaha menenangkan diri dengan cara-cara yang dihalalkan. Ia tidak meyatakan perasaannya ke sang wanita. Karena ia takut sang wanita kaget dan muncul fitnah lain. Jaaahhhh……….berat emank. Tapi itulah resiko mencintai seseorang sebelum siap lahir dan batin.

Haaagghhhh………..sakit hati itu wajar kawan. Tapi hanya sang juara dan orang yang imannya kokoh yang dapat bangkit dengan cepat. Toh hidup, mati, jodoh, dan rizki memang sudah ada yang mengatur. Usaha memang diperlukan, tapi tak lebih dari sarana mencapai sesuatu yang telah diatur.

Memang tidak mudah…I’m loving someone the hard way too. And I think I will face the worst scenario that can happen. Jadi jangan merasa paling susah sedunia sendirian kawan. It’s not that hard to get up and start a brand new life. Lagipula, Allah pasti akan mengabulkan doa anda. Kalau tidak di dunia, insyaAllah akan dipertemukan di surga. Lantas, kurang apalagi?

→ 8 CommentsKategori: Sampah Hati

Dompet Baru…

Desember 14, 2008 · 3 Komentar

Tanggal 10 Desember kemarin, saya berkelana ke beberapa toko untuk memburu dompet baru. Soalnya dompet saya sudah usang dan rusak. Maklum, sudah tepat 4 tahun dompet ini menemani saya. Dompet itu merupakan hadiah dari adik-adik siswa saya, yaitu Riris, Benaga, Idzny, dan Hanif. Well…saya sangat berterimakasih kepada mereka, karena telah memberikan dompet yang luar biasa bagus dan penuh kenangan ini.

Dompet yang baru ini agak berbeda dengan dompet-dompet saya sebelumnya yg sumbu lipatnya terletak di salah satu sisi yang lebih pendek. Saya ingin mencoba model yang lain dari yang biasa saya gunakan. Maka, saya beli dompet dengan sumbu lipat di salah satu sisi yang lebih panjang. Saya lampirkan foto dompet saya yang lama dan yang baru.

Dompet lama:

tampak depan

tampak depan


dibuka...lihat betapa sudah rusaknya dompet ini

dibuka...lihat betapa sudah rusaknya dompet ini


hahaha...udah ancur gini

hahaha...udah ancur gini

Dompet baru:

Tampak depan

Tampak depan


dibuka...lengkap dengan isi

dibuka...lengkap dengan isi

→ 3 CommentsKategori: Sampah Hati

Resolusi Detik Ini…

Desember 5, 2008 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sejak kapan ya, tulisan-tulisanku menjadi suram? Kemarin, aku diingatkan oleh seorang sahabat dan saudara seiman. Mereka sangat mengkhawatirkan keadaanku. Padahal, niat awal aku membuat blog ini dan tulisan bukan untuk membuat orang khawatir.

Seandainya saja tulisanku dapat memberi inspirasi, semangat, motivasi, atau bahkan hidayah tentu aku akan sangat senang dan bersyukur. Karena hal tersebut merupakan rizki dari Allah dimana Dia memberi hidayah melalui jalan tulisan-tulisanku. Semoga saja aku mendapat pahala karenaNya.

Semoga Allah selalu memberi petunjuk, ridho, dan hidayahNya kepada kita semua. Karena tidak mungkin kita akan bertahan tanpa itu semua.

Amin….

→ Leave a CommentKategori: Sampah Hati

Mimpi Yang Berjatuhan…

Oktober 28, 2008 · 11 Komentar

Saat aku lulus SMA, aku kecewa pada diri sendiri karena tak bisa merebut Garuda. Representasi lulusan terbaik yang (akhirnya) aku idam-idamkan. Rekan-rekanku yang mendengar pengakuan ini tentu akan tertawa. Karena memang saat itu aku jauh dari pantas untuk mendapatkannya. Aku hanya berpikir, bukankah sangat menyenangkan jika dalam hidup kita dapat berprestasi. Tidak seperti sekarang ini…

Kejadian itu terus berulang. Kekecewaan-kekecewaan selanjutnya terus berjatuhan. Di tingkat akhir ini, aku kecewa karena aku tak belajar dari pengalaman. Seharusnya dengan ketekunan dan sedikit strategi, setidaknya aku dapat mendekati Ganesha Prize. Namun, entah sejak kapan, aku kehilangan kemampuanku untuk fokus. Dan saat aku tersadar, aku kehilangan kemampuanku untuk mengabaikan kesulitan orang lain.

Baca terus →

→ 11 CommentsKategori: Uncategorized

Semarang…negeri jajahan

Oktober 25, 2008 · 6 Komentar

Saya ingin bercerita mengenai Semarang. Kota dimana orang tua saya tumbuh besar dan mulai mencoba mengais rejeki. Kota dimana sebagian besar sanak saudara, handai taulan yang hubungan darahnya sudah tidak rekat lagi bermukim. Ibu kota Jawa Tengah ini menjadi medan perang bagi mereka. Cerita ini akan menarik, karena saya menyoroti keluarga saya yang “tidak biasa”.

Rentang ekonomi yang sangat lebar di keluarga besar saya, terutama yang dari Ibu, membuat rentang “pekerjaan” yang begitu lebar pula. Akibatnya, saya dapat menemui “profesi-profesi” yang unik. Seunik apa? Semoga anda berpendapat menjual narkoba dan pembunuh bayaran unik. Karena kalau tidak, cerita ini hanya akan menjadi cerita basi saja. Hehehe…

1. Sebut saja Mr. D, sehari-hari bekerja sebagai notaris. Ia adalah salah satu pakde dari keluarga besar saya. Istrinya berprofesi sebagai dokter. Masa mudanya terkenal sebagai playboy tampan yang memiliki teman dari tukang becak, preman terminal, polisi sampai orang terkaya di Semarang. Dari kecil ia sudah sering terlibat perkelahian. Ayahnya adalah polisi yang berpangkat terakhir AKBP dan meninggal pada usia 35 akibat persaingan tidak sehat dengan anak buahnya (baca: disantet). Rumahnya menjadi tempat persinggahan saudara dan kemenakannya yang belum memiliki kerja atau pun usaha tetap. Dermawan, kekeluargaan, dan sering membantu teman dan saudara. Ia adalah salah satu orang yang disegani di Semarang. Kalau anda berbuat macam-macam dengannya, orang-orang yang saya sebut selanjutnya yang akan memburu anda. Sepupu saya memberi julukan kepadanya sebagai Godfather. Saya pernah mendengar saat anaknya terlibat perkelahian dan rumahnya dikirim surat kaleng yang berisi tantangan, petinju-petinju dari sebuah sasana terkemuka Semarang yang melahirkan juara dunia pun ikut turun tangan. Baca terus →

→ 6 CommentsKategori: Uncategorized

Ku Kan Keliling Dunia

Oktober 21, 2008 · 2 Komentar

(*)plesetan dari Tak Perlulah Aku Keliling Dunia

kapur putih yang pucat
terasa penuh warna
dan pelangi yang akan datang pun berbinar

kertas putih yang pudar
tertulis seribu kata
dan ku ungkap semua yang sedang kurasa

dengarkanlah
kata hatiku
bahwa ku ingin tuk tak tetap di sini..

perlulah aku keliling dunia
biarkan ku di sana
perlulah aku keliling dunia
karna ku tak mau jauh darimu

dunia boleh tertawa
melihatku bahagia
walau di tempat yang kau anggap tak biasa

→ 2 CommentsKategori: Uncategorized

Ambisiku atau Mereka?

Oktober 21, 2008 · 1 Komentar

Siapa anda? Apa cita-cita anda? Apa yang akan anda lakukan esok? Lusa? Tahun depan?

Coba jawab dan renungkanlah pertanyaan-pertanyaan di atas! Apakah semuanya sudah terpikirkan? Atau mungkin lebih tepatnya, siapa yang memikirkan dan menentukannya? Diri anda? Atau siapa?

Saya besar dengan impian masa kecil menjadi seorang petualang. Dari pemadam kebakaran, peneliti yang terjun ke hutan-hutan belantara, tim SAR, astronot, hingga pelaut. Saya tanya kepada kalian, dari serenteng cita-cita tersebut, mana yang hina? Mana yang memalukan? Mana yang melanggar etika dan moral? Mana yang tak bermanfaat? Mana yang melanggar hak asasi orang lain?

Di Amerika dan Jepang, firefighter adalah pahlawan semua orang. Begitu pula pekerjaan lainnya yang saya sebutkan di atas. Semuanya memberikan manfaat yang sangat berarti untuk orang lain dengan berbagai bentuknya. Tapi, kenapa saya tidak bisa menjadi salah satu di antaranya? Mungkin kalau astronot memang sulit, tapi yang lainnya?

Keluarga saya lah yang pertama kali menentang cita-cita saya di atas. Semua orang menertawakan cita-cita saya itu dan menganggapnya hanya sebagai impian masa kecil belaka.

Sekarang, saya dituntut untuk melanjutkan S2. Alhamdulillah, saya pun berencana melaksanakannya walaupun tidak diminta orang tua. Namun lihat rekan-rekan saya, banyak di antara mereka yang dituntut untuk melakukan S2. Padahal mereka memiliki impian lain untuk dikejar. Wirausaha, aktivis LSM, atau pun alih profesi lain yang tidak berhubungan sama sekali dengan bidangnya saat ini.

Berapa banyak pula orang yang terpaksa memilih suatu profesi karena tekanan orang lain? Kamu harus menjadi dokter! Kamu harus jadi insinyur! Kamu harus masuk sekolah favorit, masuk jurusan favorit, universitas favorit, dan kerja di perusahaan asing favorit!

Saya tidak ingin mengajak anda bermain dan bertanya-tanya di mana batas taat kepada orang tua. Hanya saja, saya menjadi bingung karena satu pertanyaan. Apakah ini karena orang tua ingin melihat anaknya sukses dan meraih cita-cita yang diimpikan (anak tersebut) ataukah ini semua hanyalah sebagai sarana orang tua untuk memenuhi ambisi pribadi mereka?

→ 1 CommentKategori: Sampah Hati

Citra dan Blog

Oktober 19, 2008 · 1 Komentar

Pernahkah para pembaca memikirkan seperti apa dunia melihat diri anda? Kalau belum, coba saja sekali waktu melakukannya. Kalau sudah, pertanyaan selanjutnya muncul. Seperti apakah citra tersebut? Apa sudah sesuai dengan yang kita inginkan?

Saya adalah orang yang berusaha sebisa mungkin memunculkan citra atau potret diri positif di mata orang lain. Memang tak sepenuhnya berhasil. Toh manusia selalu berbuat kesalahan.

Citra juga yang saya pikirkan saat membuat blog. Buat saya, blog pada awalnya adalah kebutuhan untuk melepaskan semua uneg-uneg sebebas-bebasnya. Dan saya ingin mendapat masukan dari orang-orang yang membacanya. Hanya saja, saya baru menyadari setelahnya bahwa blog adalah ruang publik yang membentuk citra tentang diri anda. Ingin ditampilkan seperti apa diri citra Aditya Syarief melalui blog? Jika saya membeberkan kesalahan, masalah, atau bahkan aib saya secara terang-terangan di blog, rekan, teman, relasi, saudara, dll pasti akan memberikan reaksi. Dan mereka mulai memunculkan citraannya masing-masing tentang diri saya yang mungkin saja sangat berbeda dengan yang sudah ada saat ini.

Baca terus →

→ 1 CommentKategori: Sampah Hati